Dikala
Badai Menerpa Hutan Yang Rindang
Dalam
hidup ku terlintas sebuah tanda tanya yang membuatku setiap hari berpikir tanpa
henti. Bagaimana bisa manusia bisa merasa berbagai macam perasaan. Mulai dari
perasaan yang indah hingga yang tidak. Untuk apa dikaruniakan dua alat yang
membuat manusia sendiri tersesat dan tak tau arah kembali. Hati dan otak,
mengapa mereka diciptakan untuk saling berbeda pendapat setiap menyelesaikan masalah,
dikala hati mengarah kearah yang baik tetapi otak tidak, begitu juga
sebaliknya.Setiap
masalah ada jalan keluarnya, itu anggapan beberapa orang di luar sana. Tapi
bagiku tidak semua masalah ada jalan keluarnya. Sampai detik ini ku masih
terjebak dalam masalah,dan hari demi hari masalah itu tambah besar hingga ku
tak tau harus bagaimana mrnghadapinya lagi. Dengan apa aku harus hadapi dan
bersama siapa ku menghadapi semua masalah yang terus datang pada ku. Apa aku
harus menggunakan hati dalam masalah ini ataukah pikiran ku.Ku
memang bukan manusia yang sempurna. Ada kala nya ku bisa menjadi seorang yang
baik, tapi ada kalanya aku menjadi orang paling egois di dunia ini. tapi selama
ini mengapa aku selalu menggunakan hatiku, salahkah aku mengedepankan hati ini
??? pada dasarnya, satu sisi ketika hatiku itu memilih sesuatu hal, itu sudah
menjadi keinginanku, walaupun terkadang pikiran ku berontak atau bahkan
sebaliknya. Tetapi ada beberapa orang hanya melihat dan menunjukkan ke dunia
tentang ku dengan segala yang ku lakukan karena pikiran ku. Mengapa mereka
tidak sedikitpun menunjukkan aku melakukan itu dengan hati ku. Aku melakukan
semua ini juga bukan semata – mata untuk ku pribadi. Ku masih bisa dan mencoba
bahagia dalam sedih ku untuk membahagiakan orang lain, aku masih bisa berdiri
tegar agar orang tidak memandangku lemah. Tetapi mengapa semakin hari orang
malah membuat ku lemah, bahkan mencoba untuk menjatuhkan ku sedalam dia mampu.Apakah
begitu jahatkah seorang perempuan sepertiku ini sehingga ku harus menerima
masalah seperti ini??? seandainya orang – orang dapat mengerti apa yang aku
rasakan tanpa harus aku katakan. Karena sejujurnya bibir bahkan badan ini tidak
bisa lagi mewakili isi hati ku ini.Ku
seperti ini karena ku tidak ingin terlalu lama menyakiti orang, dan ku seperti
ini karena ku sadar akan kekurangan ku. Dan aku seperti ini karena ku ingin
berada dimana hatiku ingin berada. Dan apa yang aku lakukan bukan karena siapa
atau siapa, tetapi karena aku ingin dan aku nyaman dengan apa yang aku jalani,
selama itu aku tidak meyakiti orang lain. Tapi mereka beranggapan lain padaku,
sehingga ku tidak dapat bergerak kearah mana pun.Sekarang
yang dapat ku lakukan hanya menerima semua yang akan terjadi dan menerima semua
ucapan yang menoreh luka dihati. Dan perlu dia ketahui ketika hati teriris, itu
semua sudah pasti menniggalkan bekas yang tidak akan hilang walapun darah itu
mengering.Ku
membutuhkan seseorang yang bisa membawa ku pergi dari kehidupan ini, sehingga
ku tak lagi mengenal rasanya menyakiti bahkan merasakan dendam yang akan
tertimpa padaku nantinya. Kehidupan ini membuatku tak ingin sesuatu apapun
selain dirimu yang dapat membawa ku pergi dan menghentikan tangisan ini. Hati
dan mata ini sudah tak sanggup lagi untuk bekerja selayaknya tugas yang telah
diberikan. Hati tak sanggup lagi menahan rasa sakit dan tidak dapat menerima
lagi segala perkataan itu. Dan mata ini tidak sanggup lagi meneteskan air mata untuk
mewakili rasa sakit yang ada dalam hati.Hati
ini tidak bertiang, tapi selama ini hati bisa berdiri dan kuat karena ada cinta
dan kasih sayang dari mereka yang tulus menyayangiku tanpa membuatku memikirkan
masalah ku dan selalu tertawa dalam hari ku. Hati ini kuat karena doa yang
dikirimkan oleh orang – orang yang menyayangiku . Aku sangat mencintai kalian
semua yang sekarang ini ku cintai, karena kamu dan kalian semua hati masih kuat
dan menjalani semua. ** jangan lihat
aku dengan segala kesalahan ku, tetapi lihat lah aku dengan segala kebaikan ku,
karena niat baik ku yang membuat kesalahan ada pada ku ** # ku tak menginginkan kata
– kata itu menhampiri ku, karena ku sendiri tidak merasa seperti itu.
Delvia Safitri
“Luka terdalam”
0 Response to "Kesedihan Terdalam"
Posting Komentar